Hemiballismus pada Stroke Infark Ganglia Basalis Bilateral

Dian Prakoso,* Riani Wisnujono,** Priya Nugraha,** Muh. Hamdan**
* Peserta PPDS I Departemen Neurologi FK Universitas Airlangga–RSUD Dr. Soetomo Surabaya
** Staf Pengajar Departemen Neurologi FK Universitas Airlangga–RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Abstract

         Latar Belakang: Gangguan gerak sering terkait dengan stroke pada orang dewasa dan cenderung membaik dalam perjalanan waktu. Sebuah studi dari 2.500 pasien stroke pertama kali ditemukan bahwa 1% mengalami gangguan gerak onset akut atau lambat. Pada kebanyakan kasus, lesi-lesi disebabkan oleh penyakit serebrovaskuler pembuluh darah kecil (small vessel) pada teritori arteri serebri media dan posterior berupa infark lakunar atau perdarahan. Hemiballismus merupakan salah satu bentuk gangguan gerak terkait stroke yang jarang dijumpai. Prevalensi dan insiden hemiballismus dalam populasi belum mapan, namun tinjauan Lausanne Stroke Registry yang berbasis rumah sakit mengidentifikasi prevalensi 1% dan estimasi insiden sebesar 0,08% per tahun. Hemichorea merupakan gangguan gerak paling umum yang diikuti oleh hemichorea-hemiballismus. Ditemukan pada rentang usia 17-90 tahun dengan rerata onset pada usia 63,3 tahun. Sebagian besar kasus hemiballismus berasal dari lesi-lesi struktural pada nukleus subthalamikus dan koneksi-koneksinya. Input eksitatorik yang menuju globus pallidus pars interna hilang akibat lesi sehingga mengakibatkan berkurangnya inhibisi pada nukleus thalamus ventroanterior/ventrolateral. Semua ini akan menyebabkan hiperaktivitas motorik yang tidak terkontrol pada sisi kontralateral lesi. Tujuan: Melaporkan kasus stroke trombotik ganglia basalis bilateral dengan manifestasi hemibalismus. Laporan Kasus: Laki-laki, 49 tahun, datang dengan keluhan utama gerakan tubuh yang tidak bisa dihentikan. Lengan kanan dan tungkai kanan bergerak-gerak sendiri tanpa bisa dikontrol sejak 13 hari sebelum masuk rumah sakit. Timbul secara mendadak. Lidah bergerak gerak sendiri sehingga pasien sulit makan, kadang tersedak saat makan, dan sulit bicara. Wajah sisi kanannya juga bergerak-gerak sendiri. Gerakan-gerakan ini terjadi bersamaan dengan gerakan pada lengan dan tungkai kanan. Semua gerakan tersebut berkurang saat pasien tidur. Pasien tidak memiliki riwayat stroke sebelumnya, tidak mengalami trauma kepala-leher, tidak memiliki epilepsi, dan tidak ada demam. Tidak didapatkan riwayat nyeri kepala. Tidak ada keluhan pandangan dobel. Pasien telah mengalami diabetes melitus sejak 10 tahun, namun tidak terkontrol. Riwayat hipertensi juga didapatkan. Sebelumnya pasien tidak pernah mengonsumsi obat-obat psikiatrik atau obat untuk mual. Pada pemeriksaan general selain hemiballismus tidak didapatkan abnormalitas. Pada pemeriksaan neurologis dijumpai gerakan involunter anggota badan kanan, tanpa ada gangguan sensoris dan defisit neurologis pada nervus kranialis. Pada pemeriksaan penunjang Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala tanpa kontras didapatkan bilateral ischemic basal ganglia. Dengan pemberian haloperidol 2×2 mg, gerakan involunter tersebut dapat berkurang. Kesimpulan: Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan MRI kepala tanpa kontras, kasus ini adalah stroke iskemia (suspek stroke lakunar atipikal) pada ganglia basalis bilateral dengan manifestasi klinis yang jarang dijumpai berupa hemiballismus pada anggota tubuh kanan. Pemberian haloperidol pada kasus ini cukup membantu mengurangi beratnya gejala gerakan involunter.

Kata kunci:
Faktor risiko, ganglia basalis, hemiballismus, stroke trombotik

Daftar Pustaka

  1. Grandas F. Hemiballismus. In: Weiner W.J., Tolosa E., editors. Handbook of Clinical Neurology. 3rd ed. Amsterdam: Elsevier B.V.; 2011. pp. 249-57.
  2. Shannon K.M. Hemiballismus. Curr Treat Option Ne. 2005; 7: 203-10.
  3. Mark M.H. Other Choreatic Disorders. In: Watts R.L., Standaert D., Obeso J.A., editors. Movement Disorders. 3rd edition. China: The McGraw-Hill Companies; 2012. pp. 725-746.
  4. Foncke E. Ballism. In: Wolters E.Ch., Van Laar T, Berendse H.W., editors. Parkinsonism and Related Disorders. 1st ed. Amsterdam: VU University Press; 2007. pp. 401-3.
  5. Bansil S. et al. Movement Disorders after Stroke in Adults: A Review. Tremor Other Hyperkinet Mov. 2012;2: http://tremorjournal.org/article/view/42.
  6. Handley A., Medcalf P., Hellier K., Dutta D. Movement Disorders after Stroke. Age and Ageing. 2009; 38: 260–266.
  7. Mudgal S.M., Kosgi S., Hedge V.N. Hemiballismus: a rare manifestation of stroke. Int J Health Sci Res. 2015; 5: 517-21.
  8. Merchut M.P. Disorders of Basal Ganglia. 2011; [cited 21 February 2015]; [about 5 screens].
    Available from: http://www.stritch.luc.edu/lumen/MedEd/neurology/Disorders%20of%20the%20Basal%20Ganglia.pdf.
  9. University of Wisconsin. Basal Ganglia. 2006; [cited 21 February 2015]; [about 13 screens].
    Available from: http://www.neuroanatomy.wisc.edu/coursebook/motor2.pdf.
  10. Siniscalchi A. et al. Post-stroke Movement Disorders: Clinical Manifestations and Pharmacological Management. Curr Neuropharmacol.2012; 10: 254-62
  11. Degonkar M., Machado A., Vitek J.L. Stereotaxic Surgery and Deep Brain Stimulation for Parkinson’s Disease and Movement Disorders. In: Watts R.L., Standaert D., Obeso J.A., editors. Movement Disorders. 3rd edition. China: The McGraw-Hill Companies; 2012. pp. 319-359.
  12. Ristic A., Marinkovic J., Dragaševic N., Stanisavljevic D., Kostic V. Long-Term Prognosis of Vascular Hemiballismus. Stroke. 2002; 33: 2109-11.
  13. Arboix A., Marti-Vilalta J.L. Lacunar Stroke. Expert Rev. Neurother. 2009; 9: 179–96.
  14. Arboix A. et al. Clinical study of 39 patients with atypical lacunar syndrome. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 2006; 77: 381–84.
  15. Shan D.E., Ho D.M.T., Chang C., Pan H., Teng M.M.H. Hemichorea-Hemiballism: An Explanation forMR Signal Changes. Am J Neuroradiol. 1998; 19: 863–70.