Meningeal Glioblastoma Ekstraserebral Primer: Manifestasi Klinis, Radiologis, dan Analisis Patologi

Anggi Inggriani Rahayu*, Djohan Ardiansyah**
* Peserta PPDS I Neurologi FK Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya
** Staf Pengajar Divisi Neuroonkologi Departemen Neurologi FK Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Abstract

         Pendahuluan: Meningeal glioblastoma merupakan kasus yang sangat jarang dengan angka rekurensi dan mortalitas tinggi. Glioblastoma multiforme biasa ditemukan di hemisfer, cerebellum ataupun medulla spinalis dan jarang ditemukan di daerah subarachnoid. Diagnosis pasti untuk kasus ini adalah pemeriksaan patologi anatomi, karena jika berdasarkan manifestasi klinis dan radiologis saja dapat serupa dengan meningioma. Manajemen terapi standar glioblastoma multiforme adalah operasi reseksi, diikuti kemoradioterapi concomitant dengan temozolomide (TMZ), dan kemoterapi adjuvan selama 6-12 siklus. Diagnosis dan tatalaksana yang cepat dan tepat dapat memperpanjang harapan hidup pasien. Laporan Kasus: Laki-laki, 46 tahun dengan nyeri kepala kronis sejak 1 tahun lalu, memberat 6 bulan kemudian disertai dengan mata kanan menutup dan wajah menceng. Dari MRI kepala didapatkan massa di temporoparietal kanan yang melekat pada duramater mengesankan suatu meningioma. Dilakukan total reseksi dan pada hasil pemeriksaan patologi anatomi ditemukan sel raksasa berinti banyak dan tampak daerah nekrosis luas kesan suatu meningeal glioblastoma. Terdapat ketidaksesuaian antara manifestasi klinis, radiologis dan gambaran makroskopis durante operasi dengan gambaran patologi anatomi, sehingga dilakukan observasi tanpa terapi lebih lanjut. Keluhan pasien membaik setelah 1 bulan pasca operasi dan dari MRI kepala tampak area gliosis dan tidak tampak massa residif. Pasien tanpa keluhan sampai 6 bulan, dan kemudian dilakukan MRI kepala evaluasi didapatkan kembali massa di temporal kanan yang melekat pada duramater kesan suatu massa residif. Dilakukan operasi reseksi kembali dengan hasil pemeriksaan GFAP dan EMA positif kuat sesuai dengan glioblastoma multiforme. Pasien menjalani kemoradioterapi concomitant dengan temozolomide (TMZ) dan kemoterapi adjuvan sesuai prosedur Stupp. Kesimpulan: Meningeal glioblastoma ekstraserebral primer termasuk kasus yang sangat jarang ditemukan dan dipertimbangkan sebagai salah satu diagnosis banding tumor ekstraserebral. Selain manifestasi klinis dan radiologis, analisis patologi memegang peranan paling penting untuk penegakan diagnosis pasti pada kasus ini.

Kata kunci:
Analisis patologi, Manifestasi klinis, Meningeal glioblastoma, Radiologis

Daftar Pustaka

  1. Stavrinou P, Magras I, Stavrinou LC, Zaraboukas T, Polyzoidis KS, Selviaridis P. Cent Eur Neuorosurgery 2010; 71:46-49.
  2. Kuo LT, Tsai SY, Yang CY, Lin LW. Asian Journal of Surgery 2017; 40: 61-65.
  3. Shuangshoti S, Kasantikul V, Suwanwela N. Spontaneous
    penetration of dura mater and bone by glioblastoma multiforme. J Surg Oncol 1987; 36: 36-44.
  4. Ho-Keung NG, Wai-Sang P. Primary meningeal astrocytoma. J Neurosurg 1998; 88: 586-589.
  5. Kalyan-Raman UP, Cancilla PA, Case MJ. Solitary, primary malignant astrocytoma of the spinal leptomeninges. J Neuropathol Exp Neurol 1994; 42: 517-521.
  6. Opeskin K, Anderson RM, Nye DH. Primary meningeal glioma. Pathology 1994; 26:72-74.
  7. Anzil AP. Glioblastoma multiforme with extracranial metastases in the absence of previous craniotomy. Case report. J Neurosurg 1970; 33 :88-94.
  8. Aoyama I, Makita Y, Nabeshima S et al. Extradural nasal and orbital extension of glioblastoma multiforme without previous surgical intervention. Surg Neurol 1980; 14: 343-347.
  9. Bailey OT. Relation of gliomas of the leptomeninges to neuroglia nests: report of a case of astrocytoma of the leptomeninges. Arch Pathol 1936; 21: 584-600.