Profil Pengetahuan Guru Sekolah Menengah Atas tentang Epilepsi di Surabaya

Wardah Rahmatul Islamiyah* dan Kurnia Kusumastuti**
* Staf Pengajar Dep. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RS Universitas Airlangga
** Staf Pengajar Dep. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD dr. Soetomo

Abstract

Pendahuluan: Epilepsi adalah penyakit neurologis tertua yang hingga saat ini masih menimbulkan stigma di masyarakat. Penyakit ini bisa mengenai semua kelompok usia Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan, sikap, dan persepsi guru sekolah menengah atas di Surabaya tentang epilepsi. Metode: Melakukan wawancara pada 263 orang guru di sepuluh sekolah menengah atas Surabaya dengan menggunakan kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap, dan persepsi mereka tentang epilepsi. Hasil: Pada penelitian ini ditemukan bahwa 68.8% subyek penelitian tahu tentang epilepsi dan 78.3% pernah melihat pasien epilepsi kejang. Terkait tindakan yang dilakukan saat menjumpai pasien kejang, 31.9% telah tepat untuk menghubungi tenaga medis untuk meminta bantuan. Masih ada kekeliruan cara pertolongan di antaranya adalah memasukkan sendok ke dalam mulut (17.1%), memberi minum saat kejang (1.9%), dan memanggil orang pintar (1.1%). Sumber informasi dari media cetak (8.4%), penyuluhan (6.8%), leaflet (3%), tenaga kesehatan (6.5%), dan media sosial (6.1%) masih relatif sedikit. 57% subyek mengatakan bahwa epilepsi bukan penyakit keturunan dan 68.8% subyek setuju bila epilepsi tidak menular. 81.7% subyek setuju bila pasien epilepsi tetap mendapat hak yang sama di sekolah. Akan tetapi 33.4% subyek menginginkan ada kelas khusus untuk pasien epilepsi. Mayoritas subyek setuju bila pasien epilepsi berhak memiliki anak, dan (60.8%) setuju bila pasien epilepsy boleh mengendarai kendaraan bermotor (64.7%). Kesimpulan: Masih rendahnya angka penyuluhan dan informasi dari tenaga kesehatan (13.3%) menjadi salah satu penyebab sulitnya menghapus mitos dan ketakutan terkait epilepsi. Pengetahuan guru yang baik diharapkan dapat membantu menghapus mitos dan stigma epilepsi di masyarakat, serta penanganan dini kejang yang lebih baik.

Kata Kunci: Epilepsi, Guru, Sekolah Menengah Atas, Stigma

Daftar Pustaka

  1. Banerjee PN, Filippi D, Hauser WA. The descriptive epidemiology of epilepsy – a review. Epilepsy Res. 2009;85(1):31–45.
  2. Aaberg KM, Gunnes N, Bakken IJ, Lund Søraas C, Berntsen A, Magnus P, et al. Incidence and Prevalence of Childhood Epilepsy: A Nationwide Cohort Study. Pediatrics. 2017;139(5):e20163908.
  3. Fernandes PT, Noronha ALA, Araújo U, Cabral P, Pataro R, De Boer HM, et al. Teachers perception about epilepsy. Arq Neuropsiquiatr. 2007;65(SUPPL. 1):28–34.
  4. De Boer HM. Epilepsy stigma: Moving from a global problem to global solutions. Seizure. 2010;19(10):630–6.
  5. Meng Y, Elkaim L, Wang J, Liu J, Alotaibi NM, Ibrahim GM, et al. Social media in epilepsy: A quantitative and qualitative analysis. Epilepsy Behav. 2017;71:79–84.
  6. Price, Kobau, Buelow, Austin, Lowenberg. HHS Public Access. Epilepsy Behav. 2016;44:239–44.
  7. Epilepsy Foundation. GUIDELINES FOR SUPPORTING STUDENTS WITH EPILEPSY OR A SEIZURE DISORDER. 2011;(February).
  8. Barnett JEH, Gay C. Accommodating students with epilepsy or seizure disorders: Effective strategies for teachers. Phys Disabil Educ Relat Serv. 2015;34(1):1–13.
  9.  Tidman, Saravanan, Gibbs. Epilepsy in mainstream and special educational primary school settings. Seizure. 2003;12:47–51.
  10. Krumholz A. Driving issues in epilepsy: past, present, and future. Epilepsy Curr. 2009;9(2):31–5.
  11. Fernandes PT, Salgado PCB, Noronha ALA, Barbosa FD, Souza EAP, Li LM. Stigma scale of epilepsy: Conceptual issues. J Epilepsy Clin Neurophysiol. 2004;10(4):213–8.
  12. Lim KS, Tan CT. Epilepsy stigma in Asia: The meaning andimpact of stigma. Neurol Asia. 2014;19(1):1–10.