Perbaikan Klinis Signifikan Pasien Spondilitis Tuberkulosis yang Mendapatkan Regimen Obat Anti Tuberkulosis: Laporan Kasus Serial

Rika Ainun T*, Erwin Hardiansyah*, Devi Ariani S**, Hanik Badriyah H***
* Residen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya
** Staf Divisi Neuroinfeksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya
*** Staf Divisi Neurooftalmologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Abstract

Pendahuluan: Spondilitis tuberkulosis, yang dikenal sebagai penyakit Pott, adalah bentuk paling umum dari tuberkulosis muskuloskeletal. Regimen obat anti tuberkulosis masih menjadi terapi dasar atau dikombinasikan dengan pembedahan pada kasus tertentu. Kasus: Kami melaporkan dua kasus spondilitis tuberkulosis, laki-laki 53 tahun dan wanita 26 tahun dengan nyeri punggung hebat. Kedua pasien mengalami hipoestesia kedua tungkai bawah dan gangguan kencing. Kelemahan tungkai gradual terjadi sejak 4 minggu dengan skala medical research council (MRC) 1 pada kasus pertama, sedangkan pada kasus kedua kelemahan terjadi sejak 2 minggu dengan skala MRC 3. Magnetic resonance imaging (MRI) spinal menunjukkan spondilitis tuberkulosis pada vertebra thorakal 5–6 dengan kompresi medula spinalis pada kasus pertama dan spondilodiscitis tuberkulosa pada vertebra thorakal 2–3, gibbus, abses paravertebral dengan kompresi medula spinalis derajat sedang pada kasus kedua. Kedua pasien dipersiapkan menjalani operasi elektif. Regimen obat anti tuberkulosis meliputi Isoniazid, Pirazinamid, Rifampisin, dan Streptomisin selama 1–2 bulan, diikuti Isoniazid dan Rifampisin selama 9–12 bulan diberikan sebagai terapi lini pertama. Didapatkan peningkatan kekuatan otot signifikan dengan skala MRC 5, tidak didapatkan defisit otonom, dan nyeri derajat ringan yang dinilai dengan numeric pain rating scale (NPRS) setelah satu tahun follow up. Kesimpulan: Regimen obat anti tuberkulosis tetap dapat diandalkan dan mampu menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan pada terapi pasien spondilitis tuberkulosis.

Kata kunci: Perbaikan Klinis. Regimen Obat Anti Tuberkulosis,, Spondilitis Tuberkulosis,

Daftar Pustaka

  1. Yanadarg H. Tuberculous Spondylitis: Clinical Features of 36 Patients. Case Reports Clin Med. 2016;5.
  2. Garg RK, Somvanshi DS. Spinal Tuberculosis: A Review. J Spinal Cord Med. 2011;34(5):440–54.
  3. Norbis L, Cirillo DM, Tortoli E, Migliori GB, Codecasa LR, Alagna R. Challenges and perspectives in the diagnosis of extrapulmonary tuberculosis. Expert Rev Anti Infect Ther. 2014;12(5):633–47.
  4. Bhandari A, Garg RK, Malhotra HS, Verma R, Singh MK, Jain A, et al. Outcome Assessment in Conservatively Managed Patients with Cervical Spine Tuberculosis. Spinal Cord. 2014;52(6):489–93.
  5. Rajasekaran S, Khandelwal G. Drug Therapy in Spinal Tuberculosis. Eur Spine J. 2013;22(SUPPL.4).
  6. WHO. Treatment of tuberculosis Guidelines Fourth edition. WHO library Cataloguing-in-Publication Data (WHO/HTM/TB/2009.420). 2010. 1-160 p.
  7. Lewinsohn DM, Leonard MK, Lobue PA, Cohn DL, Mazurek H, Brien RJO, et al. HHS Public Access. 2017;64(2):111–5.
  8.  Jutte P, Van Loenhout-Rooyackers J. Surgery as an Adjunct to Chemotherapy for Treating Spinal Tuberculosis. Cochrane Database Syst Rev. 2003;(1).