Perbaikan Klinis dan Radiologis Tuberkuloma Serebral dengan Terapi Non Operatif: Dua Laporan Kasus

Muhammad Ikbal*, Paulus Sugianto**
* Peserta PPDS I Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RS Dr.Soetomo Surabaya
** Staf Pengajar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RS Dr.Soetomo Surabaya

Penulis Korespondensi : Muhammad Ikbal (ikbal.plg@gmail.com)

Abstrak

Pendahuluan: Tuberkuloma serebral merupakan suatu bentuk tuberkulosis (TB) yang jarang dan serius karena penyebaran hematogen Mycobacterium tuberkulosis (MT). Tuberkuloma serebral ditemukan paling sedikit dibandingkan tuberkulosis intrakranial lainnya, yaitu sekitar 1%. Tuberkuloma serebral yang multipel hanya 15–33% kasus. Obat anti TB penting untuk keberhasilan pengobatan tuberkuloma serebral tapi belum ada kesepakatan mengenai durasi terapi. Kasus: Kasus 1: Laki-       laki usia 33 tahun dengan keluhan penurunan kesadaran, kejang, sakit kepala, kelemahan tubuh sisi kanan. Gambaran MRI  kepala dan biopsi menunjukan tuberkuloma. Penderita mendapat obat anti tuberkulosis rifampisin, INH, pirazinamid, dan injeksi streptomisin. Setelah pengobatan selama 13 bulan, penderita mengalami perbaikan secara  klinis  maupun  radiologis. Kasus 2: Laki-laki usia 33 tahun dengan keluhan nyeri kepala kronik, demam tidak tinggi, muntah, dan dismetria kanan. Penderita juga diketahui menderita TB paru yang sedang dalam pengobatan selama 1 minggu. MRI kepala dengan kontras menyokong gambaran tuberkuloma serebral dan Gene Xpert MTB positif. Penderita mendapat pengobatan anti tuberkulosis berupa rifampisin, INH, pirazinamid, etambutol, dan injeksi streptomisin. Keluhan penderita membaik dimana tidak ada nyeri kepala dan dismetria setelah pengobatan selama 1 bulan. Kesimpulan: Tuberkuloma serebral dapat diterapi dengan obat antituberkulosis (OAT), minimal 9 bulan pengobatan. Pada beberapa kasus, masa pengobatan dapat ditambah sesuai dengan kondisi klinis dan radiologis penderita. Sedangkan pada kasus yang berat, tindakan eksisi tuberkuloma mungkin diperlukan.

Kata kunci: Obata antituberkulosis (OAT), Tuberkuloma serebral, Terapi

Daftar Pustaka

  1. Jini KB, Treesa PV, Panayappan L, Lincy Tuberculoma of brain – a review. Current Research in Medicine and Medical Sciences. 2014; 4 (1): 7-8.
  2. Gropper MR, Schulder M, Sharan AD, Cho ES. Central nervous system tuberculosis: medical management and surgical Surgical Neurology. 1995; 44 (4): 378-385.
  3. JC Garcia-Monco. Tuberculosis. In: Biller J, Ferro JM, editor. Handb Clin Neurol. 121. Spain: Elseiver; 2014. p. 1485-1499.
  4. Poonnoose S, Rajshekhar V. Rate of resolution of histologically verified intracranial tuberculomas. Neurosurgery. 2003; 53 (4): 873-879.
  5. Arseni C. Two hundred and one cases of intracranial tuberculoma treated J Neurol Neurosurg Psychiat. 1958; 21: 308.
  6. Ramamurthi B, Varadarajan MG. Diagnosis of tuberculomas of the brain. Journal of Neurosurgery. 1961; 18 (1): 1-7.
  7. Jaya Kumar PN, Kolluri PV, lyer V, Intracranial tuberkuloma. A CT Study of 52 Histologically Verified Cases. Indian J Radiol Imag. 1993; 3: 193.
  8. Rajshekhar V, Haran RP, Prakash G, Chandy MJ. Differentiating solitary small cysticercus granulomas and tuberculomas in patients with Journal of Neurosurgery. 1993; 78 (3): 402-407.
  9. Traub M, Colchester ACF, Kingsley DPE, Swash M. Tuberculosis of the central nervous system. An International Journal of 1984; 53 (1): 81-100.
  10. Garg RK. Diagnosis of intracranial tuberculoma. Ind J 1996; 43: 35.
  11. Rajshekhar Surgery for brain tuberculosis: a review. acta neurochir (wien). 2015; 157 (10): 1665-1678.